CHAPTER 38 : RASAKU SUNGGUH FOR YOU SAMPAI MLEYOT (PART KEDUA)

 Masa lalu, Januari 2020, Woh Kudu, pukul dua siang, jantungku berdebar-debar tak keruan membayangkan pertemuan yang diluar perkiraan.

Kita janjian ketemu di Woh Kudu, dia bersama teman-temannya dan aku seorang diri saja. Saat sampai di sana, tidak aku temukan senyumannya. Sempat kukira gagal karena setelah kuhubungi ponselnya tidak tersambung oleh sinyal.

Akhirnya kutinggal jalan-jalan dulu menikmati indahnya alam di Woh Kudu, kusempatkan ambil beberapa foto dari atas bukit Woh Kudu dan pada saat turun dari bukit kutemukan dirinya baru datang bersama dengan teman-temannya. Aku pun melambaikan tangan ke arah mereka.

Ketika bertatapan dengannya, aku merasakan suatu keanehan, matanya bagaikan tanda titik dimana aku rela berhenti selamanya. Senyumnya adalah peluru dan jantungku rela ditebas berulang kali demi mati di hadapannya. Sedang bibirnya adalah keajaiban bertahta semesta di dekatnya aku selalu percaya bahwa cinta benar-benar nyata. Gimana? Sudah mau muntah belon?

Setelah pertemuan itu, hatiku mulai diselimuti debar luar biasa dan mengalahkan setiap detail logika. Kamipun mulai intens melakukan chat tiap minggu. Walaupun begitu, segala chat sudah diluncurkan tetapi kok tanda-tanda menyukaiku belum kelihatan. Bagaimana ini? Bukankah berkirim pesan adalah gerbang menuju kerinduan? Bukankah kata-kata adalah penyejuk jiwa. Sampai aku terjebak pada basa-basi macam apa lagi untuk tetap terkoneksi.

Deretan chat yang kutulis tiap minggu hingga tawa kupersembahkan tidak membuat hati yang kudamba merasakan persaaan yang sama.

Aku lupa bahwa cinta itu adalah dua orang yang saling mengupayakan, bukan sekedar seorang yang menyamankan. Intensitas membuatku berekspektasi berlebihan terhadap seorang idola.

Aku tersadar bahwa sebatas kagum saja sudah cukup dan paham untuk tidak mengambil langkah lebih lanjut, biarkan seperti itu saja.

Sialnya aku lupa siapa diriku, aku ini hanya serpihan debu yang terasing di lautan berani-beraninya mendekati gadis sepertinya, fix menyedihkan.

Patah Hati lagi ?!… Wis pancen kok hidupku memang kebanyakan harapan…

Seingatku, saat terakhir patah hati umurku masih muda dengan seragam kantor masih putih hitam, dengan celana kedodoran. Saat itu aku masih awam tentang patah hati bukan berarti kini aku sudah ahli, paling tidak kini aku paham tentang cara memandang patah hati.

Tersenyum disertai merapal doa-doa kebaikan mungkin begitulah cara terbaik menerima kepedihan dari perih berbalut dendam.

Saat ini cerita romansa komediku sudah selesai kembalilah ke dunia nyata wahai para pembaca, bereskan sisa-sisa makananmu, jangan lupa cuci cangkir kopimu lalu nikmatilah aktivitasmu sebaik-baiknya seperti tidak pernah ada hari esok di hidupmu.

End..

Komentar