CHAPTER 35 : TOXIC ENVIRONMENT

 Maret 2021. Pernah merasakan  pengalaman ini teman-teman? Saya rasa semua orang sudah pernah merasakan hal ini tidak hanya dijumpai di dunia kerja saja tapi bisa di sekolah maupun lingkungan tempat tinggal kita. Pada blog ini saya bahas untuk lingkungan di tempat saya bekerja saja.

Lingkungan kerja Toxic adalah suasana negatif yang dirasakan seseorang dan berkaitan dengan karir. Suasana negatif ini berupa gossip, saling menjatuhkan dan komunikasi yang tidak lancar.

Setelah memahami lebih dalam perusahaan plastik tempat saya bekerja ternyata mempunyai lingkungan yang toxic luar biasa ditambah faktor subyektif yang tinggi dari pemilik perusahaan.

Saya awalnya berpikir kenapa perusahaan yang sudah berdiri lama tapi kok perkembangannya hanya begitu-begitu saja. Akhirnya saya paham kenapa bisa terjadi demikian.

  1. Faktor pertama, Antar karyawan saling berselisih paham, saling mencurigai satu dengan yang lainnya.
  2. Antar group saling perang sendiri mulai dari perang harga, perang supplier sampai saling rebut customernya sendiri-sendiri padahal mereka ini satu group.
  3. Karena tidak rukunnya SDM group menyebabkan komunikasi tidak lancar dan sering tergangu.
  4. Kebanyakan permasalahan diselesaikan dengan saling melaporkan ke owner.
  5. Adanya leader yang mencari muka dengan menjatuhkan SDM atau group lain dengan laporan ke owner tidak dengan cerita sebenarnya dan cenderung mengagung-agungkan hasil kerjanya sendiri yang terbaik. Lebih ke arah drama-drama pekerjaan.
  6. SDM nya liar dan bertindak semaunya sendiri sedang leadernya membiarkan saja hal tersebut. Sedangkan owner pun tidak bisa melakukan apapun.

Setelah saya ditunjuk sebagai Branch Manager saya coba untuk memperbaiki kondisi tersebut. Biasanya jika sudah terjadi akan sangat susah untuk dirubah. Ada beberapa hal yang saya coba :

  • Pahami alur kerja dan sistem di perusahaannya. Tujuannya agar kita paham mana yang benar dan mana yang salah dari sistem juga agar kita tidak dibodohi oleh keterangan-keterangan tidak valid dari oknum internal perusahaan.
  • Pahami aturan dan tata tertib sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku. Tujuannya supaya kita bisa membuat sistem yang tidak melenceng dari undang-undang.
  • Power/kekuatan. Ini faktor penting, agar kita bisa bertindak No Mercy untuk menghadapi oknum-oknum yang bisa memanipulasi kita supaya perubahan tidak perlu terjadi.

Apakah bisa berhasil dengan tiga konsep tersebut? Tentu saja berhasil tetapi hanya berjalan beberapa bulan saja di perusahaan plastik ini. Penyebab kegagalan sekali lagi disebabkan karena owner minta semuanya dikembalikan ke sistem awal. Padahal kiriman ke konsumen/group mulai terjadwal, sales mengalami kenaikan, dan SDM yang tadinya liar sudah mulai bisa dikendalikan. Sungguh sangat disayangkan.

Komentar