CHAPTER 34 : TUJUH BULAN YANG PENUH KEGAGALAN
Januari 2021,
Saya ditunjuk oleh owner untuk membenahi CV Pison yang dinilai gagal
perbaikannya oleh manajer sebelumnya yaitu Bp. Harry. Menurut saya sendiri
bukan kegagalan tetapi proses perubahannya yang begitu lambat sehingga
kelihatan tidak nampak keberhasilannya.
Ada tiga
orang yang ditunjuk oleh owner untuk melakukan perubahan yaitu Saya, Bp. Jun
(CV. Gihon) dan Ibu Lusi (Spv Toko Yobel Dongkelan). Kami kemudian melakukan meeting awal hanya
dan didapatkan usulan dari Ibu Lusi bahwa perlu adanya perubahan posisi SDMnya
dan saya hanya bertanya-tanya kenapa harus diubah? Dan saya menentang hal
tersebut.
Saya lalu
meminta pendapat Pak Jun-Jun dan menurut beliau tidak ada salahnya untuk
dilakukan karena ibu Lusi ini dulunya pernah menghandle CV. Pison dan paham
kelemahannya. Hal inipun saya diskusikan dengan selaku Bp.Harry selaku leader CV. Pison. Kamipun akhirnya melakukan meeting berempat untuk mendiskusikan hal tersebut. Akhirnya disepakati ibu Lusi membuat usulan perubahannya dan setelah itu saya
informasikan ke owner terkait hal tersebut. Owner setuju dengan perubahan
tersebut. Yang perlu diketahui di sini ada beberapa SDM yang tidak saya izinkan
untuk berubah karena jika berubah maka tidak akan seimbang di performanya.
Perubahannya
cukup besar karena melibatkan transfer pemain untuk beberapa unit sekaligus.
Setelah selesai dengan administrasi kami kemudian melakukan briefing ke all
unit terkait perubahan ini dan membuat keterkejutan di SDMnya.
Hari
perubahan pun tiba, dan apa yang saya prediksikan menjadi kenyataan. Perubahan tersebut ternyata semakin
memperburuk kondisi CV. Pison. Bukannya semakin melaju, masalah semakin banyak
berhamburan.
Sayapun
akhirnya berdiskusi kembali dengan Bp. Jun dan Ibu Lusi terkait dengan kendala
ini dan saya minta ke ibu Lusi dikembalikan ke kondisi awal. Sayapun membuat
memo perubahan supaya kondisi dikembalikan ke kondisi awal hanya saja Ibu Lusi
tidak mau dengan hal tersebut.
Saya mulai
paham ternyata perubahan ini ditumpangi suatu kepentingan dari leader tertentu.
Orientasinya bukan untuk perbaikan tapi untuk kepentingan diri mereka sendiri. Sebenarnya
hal ini sudah bisa saya prediksi karena itu ada beberapa orang yang masih tetap
saya pertahankan di posisinya.
Dibalik ini
semua saya menemukan apa yang menjadi kegagalan sebenarnya di CV. Pison ini. Alur
toko dan alur CV. Pison tidak sinkron dimana kondisi tersebut dibuat sendiri
oleh Ibu Lusi tanpa memperhatikan biaya dan SDM yang ada. Sebagai gambaran,
dalam sehari permintaan toko ke pison 5-6 kali itupun hanya 1 item saja.
Sebenarnya ada
solusi termudah yang bisa ditempuh yaitu menjadwalkan kiriman ke tokonya yang
menjadi 2 kali saja di pagi dan di sore hari dan merubah pola ordernya yang
tidak harus kirim saat itu juga. Saya dan Bp. Jun mencoba cara ini, tetapi…
Komentar
Posting Komentar