CHAPTER 32 : FENOMENA GUNUNG ES

Juni 2020, Setelah melakukan gempuran perbaikan selama 3 (tiga) bulan di unit CV. Pison ini membuatku lelah karena usaha saya dan Bp. Harry rasanya tidak membuahkan hasil. Kami waktu itu berusaha mengubah pola kirimannya dengan menerapkan kiriman H-1 dan melakukan pemetaan area kirim berdasarkan hari kirimnya. Saat meeting sudah kami bahas terkait kendala-kendala yang terjadi dengan team dan menurut mereka semua sudah dijalankan sesuai dengan arahan.

Mana mungkin? Kok aneh? Logika saya terus-menerus meneriakkan ketidakmungkinan. Customer sudah diinfo berkali-kali terkait jadwal kirimna kami tapi kok tetap saja banyak Toko-Tokonya yang order diluar jadwal kirimnya. Saya dan Bp. Harry sampai melakukan cross check data lagi dan mendiskusikan mekanisme prosesnya langkah demi langkah. Tidak ada yang salah dalam mekanismenya hanya saja perubahan terasa begitu amat lambat. Jadi apa yang salah?

Saya berpikir jika alur proses sudah benar langkah satu-satunya hanyalah pengecekan aktivitas di lapangannya. Lalu saya melakukan langkah taktis berikut :

  • Saya check kembali data sales hariannya.
  • Check mulai aktivitas order marketing sampai masuk ke bagian back office.
  • Begitu data order masuk ke bagian gudang, saya lalu amati bagian packing barang.
  • Saya ikuti data order sampai ke bagian kiriman, pecah barang lalu saat barang naik ke mobil untuk kiriman. 
  • Tidak lupa saya catat waktu tiap aktivitasnya.

Bagi orang yang melihat apa yang saya lakukan mungkin mereka mengira saya hanya bermalas-malasan dan makan gaji buta saja karena saya hanya berdiri di tengah-tengah area kerja mereka, melihat orang kerja dan diam saja. Saya lakukan hal ini setiap hari, setiap minggu, hingga dua minggu lamanya.

Saya kemudian membuat database data versi saya sendiri lalu melihat adanya kejanggalan-kejanggalan di data yang saya kumpulkan. Eh?! Ternyata ada yang berbohong.. Yaitu dengan memberikan keterangan palsu dan dengan sengaja tidak melakukan apa yang disepakati sebelumnya. Kalian tentu sudah menebak divisi mana ini.

Saya lalu memanggil bagian telemarketing ini, lalu mengajaknya berdiskusi. Saya tanyakan kembali mekanisme hariannya orderan yang beliau lakukan. Jawaban yang saya dapatkan dari telemarketing ini luar biasa sekali bagus dan impressive sangat meyakinkan untuk seseorang yang telah melakukan kebohogan.

Menurut team telemarketing ini, beliau sudah mengikuti arahan Bp. Harry dan melakukan sesuai instruksi yang diberikan. “Ya”, “sure”, “tentu” jawab saya berlagak bodoh, saya lalu menunjukkan hasil pengamatan yang saya buat selama dua minggu sesuai kondisi riil yang terjadi dan membuat keterkejutan pada team telemarketing ini. Wajahnya yang tadinya tampak sangat percaya diri berangsur-berangsur berubah menjadi pucat pasi. Mana keyakinan dirimu yang tadi nak, batinku? Team telemarketing ini ternyata tidak melakukan apa yang diminta oleh manager dan melakukan tindakan semaunya sendiri.

Setelah itu saya diskusikan kondisi ini ke Bp. Harry selaku manager unit CV. Pison untuk ditindaklanjuti ulang. Awalnya pak Harry cukup kaget dengan penjelasan saya ini, sayangnya data tidak pernah berbohong.

Sejak saat itu kondisi-kondisi yang terjadi mulai berubah, team telemarketing CV. Pison tidak menyangka hanya dengan data sales saja kejanggalan-kejanggalan bisa terbaca oleh taktik yang saya buat.

Komentar