CHAPTER 23 : FINAL DECISION

Saya punya kebiasaan untuk update surat resign tiap bulan selama saya bekerja (saya lakukan setiap minggu selama 8 tahun bekerja). Ada dua alasan yang melatar belakangi hal ini: 1) Perusahaan bisa menendang keluar saya karena kinerja saya jadi saya sudah siap saat itu terjadi, atau 2) Saya bisa keluar sewaktu-waktu karena keinginan saya sendiri. Untungnya point ke-2 ini yang menjadi alasan saya untuk resign.

Begitu berita saya mengundurkan diri tersebar banyak atasan dari divisi lain dan rekan kerja yang menanyakan: “Emang sudah dapat gantinya?” Saya jawab: “belum ada, dan saya belum berpikiran ke sana kalaupun sudah saya mau coba merintis bisnis sendiri”. Lalu mereka bertanya kembali: “kalo belum ada kenapa resign? kalo kerja sendiri mah ndak bisa dapet gaji setinggi ini.” Ada juga yang memberikan tanggapan absurd: ”Mau kerja di mana kamu? ndak bakal ada perusahaan laen yang mau menerima kamu selain di sini.”Lalu saya jawab: “Itu mah bapak kali….” (dalam angan-angan saya saja karena tidak mungkin saya jawab demikian di kondisi realnya).

Memang benar, keputusan yang saya ambil ini tergolong absurd, nyeleneh, nekad bahkan aneh untuk sebagian orang. Karena kenyataan yang terjadi di lapangan, masih banyak orang yang susah mendapatkan pekerjaan di zaman ini.

Waktu itu saya merasa bingung dengan hidup saya sendiri. Rasa mentok pada kerjaan membuat saya putus asa. Apa yang saya kerjakan sudah tak lagi menarik, di sisi lain beban pekerjaan semakin menambah tingkat kelelahan saya dalam bekerja. Juga rasa sakit akibat penolakan orang yang kusuka membuat saya hampa dan bisa dibilang saya sudah kehilangan motivasi kerja.

Kinerja keseharian terkait dengan performa kita sehari-hari. Bisa dibayangkan jika performa saya jelek, hasil yang dicapai pasti tidak akan maksimal dan hal ini bukan suatu hal yang bagus untuk saya kedepannya. Saya sadar diri, sudah saatnya saya melepaskan posisi ini ketika saya masih dalam performa terbaik.

Orang tua, teman-teman bahkan atasan saya memberikan saya wejangan positif supaya saya tetap bertahan dalam kondisi saat ini. Membuat saya untuk bisa bertahan sedikit lebih lama terhadap tekanan dan hal-hal negatif yang menerpa saya saat ini. Saya sendiri pun juga bergelut supaya bertahan dengan merenungkan kembali wejangan-wejangan tadi namun tekanan ini sudah tidak dapat ditoleransi lagi dan bila saya tetap bertahan dalam kondisi ini maka jiwa dan kewarasan saya bakal dibayar sangat mahal. Ada hal yang memang tidak bisa dipaksakan dalam kehidupan seperti halnya cinta yang tidak bisa dipaksa-paksa… jadi keputusan ini adalah wujud rasa sayang terhadap diri sendiri.

Lalu apakah yang akan dilakukan setelah resign nanti? Tentu tahap awal menjadi pengangguran yang bergaji tidak tetap. Kondisi terburuk adalah saya perlu menghemat keuangan supaya dapat bertahan hidup tapi bukan itu pointnya…. Tapi ternyata ada begitu banyak hal yang bisa dilakukan seperti mulai kerjaan baru, membuka olshop, menjadi youtuber/blogger atau merintis usaha di bidang jasa atau kuliner. Saya akan share pengalaman saya di cerita berikutnya.

Komentar