CHAPTER 19 : KEMBALI KE HO, KEMBALI KE MD

Setelah saya ditarik kembali ke kantor pusat, saya tidak ditempatkan di divisi lama saya karena saat itu semua divisi sudah terisi penuh. Saat itu saya dalam keadaan marah, terasing, tidak nyaman, gelisah dan gundah gulana. Akhirnya saya memulai debut baru di divisi produce local dengan tiga orang anggotanya, 1 manajer, 2 admin.

Buah local sering kali tidak pernah mencapai budget dan penjualannya sering kali paling kecil dari divisi yang lain. Selain itu barang rusaknya besar di tiap-tiap toko. Ini adalah awal yang baik buat saya untuk membuka lembaran baru.

Divisi produce local ini dibagi menjadi 2 kategori : 1) Buah lokal, dan 2) Sayur mayor. Walaupun hanya 2 kategori saja tetapi jumlah PLU itemnya bisa mencapai ratusan.  Kiriman dari supplier menggunakan kiriman via DC.

Tidak semua buah dijual di semua toko, hanya dipilih toko-toko tertentu yang potensi saja. Biasanya rekomendasi dari Area Manager atau Team Perishable Area Manager. Kiriman buah supplier sebanyak tiga kali seminggu untuk masing-masing DC cabang.

Buah yang pasti selalu ada adalah buah pisang, papaya, melon dan semangka selain itu alokasinya menurut musim seperti manga dan manggis. Buah apple, pear dan anggur tidak masuk ke divisi produk local tetapi masuk ke divisi produk impor.

Kategori Sayur di produce local ini dibedakan menjadi 3 bagian yaitu :

1) Sayuran keras (contoh: bawang merah, bawang putih, lombok, tomat dan lain-lain)

2) Sayuran berdaun (contoh: bayam dan kangkung dan lain-lain)

3) Natural spices (contoh: bumbu dapur)

Barang rusak untuk buah dan sayur di toko disebabkan beberapa hal: 1) Penanganan FIFO oleh team toko, 2) Kurangnya penawaran oleh team toko 3) Kurangnya karyawan khusus

Bulan-demi bulan saya gunakan untuk belajar administrasi, membuat database dan monitoring harian hingga akhirnya Buah lokal mulai over budget untuk pertama kalinya. Target saya waktu itu: focus ke toko potensi dengan memperbesar alokasi buah lokalnya dan mengurangi retur untuk toko dengan sales kecil.

Hal yang paling menganggu di divisi ini adalah pembuatan ordernya manual. Dimulai dari tarikan data SOR melalui ORACLE kemudian based on data ini kita baru buat orderingnya. Caranya masih sama yaitu sales yang terjual - stock di toko. Hasilnya kemudian ditulis di form yang sudah disediakan. Langkah akhir kita telepon ke seller untuk order manual, kenapa? Sebagian besar dari seller belum menggunakan teknologi seperti email sehingga untuk order menggunakan cara manual yaitu telepon.

Saya mulai kembali bersemangat hingga salah satu divisi perishable yaitu Dairy 1 dan dirut meminta saya untuk membantu di sana gara-gara seorang MT lama menginginkan saya untuk menjadi partnernya. Dan pada akhirnya saya pindah ke divisi Dairy 1 ini.

Sekian dan terima kasih.

Komentar