CHAPTER 18: LAMUNAN

Perjalanan cintaku di tahun 2016 cenderung flat-flat saja. Hari demi hari ku lalui dengan mengarungi lautan hati dan hasilnya nihil tanpa hasil. Bantuan demi bantuan dikerahkan oleh teman ortu, keluarga, teman-teman dan handai taulan, hanya saja hatiku tetap diam membisu.

Banyak temen-teman, juga famili yang menasehati supaya saya segera cepat mencari pasangan. Ortuku sendiri menasehati "mulai sekarang cobalah membuka hati, siapa tahu toh ada yang cocok?". Tentu, akan saya lakukan tetapi dengan cara saya ya... Mencari pasangan itu bukan karena karena tenggat waktu, bukan juga karena umur yang terlalu muda atau umur yang terlalu tua. Saya mencari pasangan karena "you are the only for me", dan vice versa. Itulah cosmic connection yang saya cari bukan sekedar asal-asalan memilih lalu berakhir kelam di ending-endingnya nanti.

Semenjak badai patah hati itu, hatiku berusaha untuk memukan cinta baru, terbang ke ribuan dunia, menawarkan besarnya cinta di dada. Bersiap kembali memeluk duka dalam damai pada setiap kekecewaan pada pintu baru yang terbuka.

Lara yang mendera diri, perih yang merintih sudah mulai hilang di telan bumi tapi masih saja retakan itu masih ada. Perjalanan demi perjalanan singkat yang membuat retak kembali rekat membuatku kembali berani menemui dirimu setelah badai patah hati.

Ada beberapa hati yang sempat kusinggahi, bidadari lulusan luar negeri dan bekerja di salah satu perusahaan ternama. Ada juga wirausahawan cantik pemilik kos-kosan di jakarta. Lalu bidadari pemilik toko besi tapi tetap saja hasilnya nihil tanpa hasil. Kuawali dengan chat whatsapp berhari-hari hingga akhirnya chatku hanya dibalas dengan centang biru sebiru langit waktu itu… Ah sudahlah… Tak mengapa mungkin saja hatiku belum bisa menyapu debu-debu kebosanan mereka, juga sebaliknya. Hatiku dan hatinya sama sekali tidak menemukan aksi dan reaksi, masih diam terpaku di satu sisi.

Hal yang sama juga terjadi berulang-ulang untuk hati lainnya, beberapa perkenalan dan selesai dengan tanda tanya. Entah sudah sampai berapa banyaknya, sampai diri sendiri pun lupa. Pernah ingin menyapa cinta keduaku lewat chat tapi setelah kulihat foto whatsappnya berdua dengan laki-laki pilihannya itu membuat hatiku bertambah pilu.

Lelah...

Akhirnya karena lelah mataku mulai terpejam di bawah pesona bintang-bintang. Pikiranku kemudian melayang-layang mencoba menemukan sesuatu yang hilang... Aku semakin jauh berkelana dan entah mengapa gerak nyali begitu liar merasuki tiap jengkal kenangan hingga pikiranku kembali tertuju pada cintaku yang pertama, The Anker Girl... Gilaaa!!!

Komentar