CHAPTER 17: MENGOBATI PATAH HATI

Patah hati telah membawaku menuju perjalanan baru yaitu Pronojiwo. Pronojiwo, letaknya di desa Hargobinangun, kecamatan Pakem, Sleman, Yogyakarta. Tempat ini merupakan favorite pendaki pemula karena tempatnya lumayan menyenangkan, tidak seterjal dan menanjak gunung Merapi.

Terima kasih untuk kedua saudaraku @dizh87 dan @ariahimaa yang berkenan menemaniku untuk petualangan baru ini. Sebuah misi mulia untuk mengobati rasa sendu dan pilu saat penolakan cintaku beberapa waktu lalu dengan mencoba hal-hal baru.

Tantangan terberat pertama adalah bangun di pagi hari yaitu di pukul 03.00 WIB untuk menyiapkan perbekalan. Kemudian kami berangkat dari rumah pukul 03.30 WIB dan sampai di tempat tujuan pukul 04.00 WIB. Ada dua pilihan jalur menuju bukit Pronojiwo ini pertama melewati tangga yang berada di samping air terjun mancar kaliurang dan kedua melewati jalan setapak di dekat pintu masuk. Kami sendiri memilih jalan yang pertama.

Yang paling sulit dari tempat ini adalah the last miles untuk mencapai spot sunrisenya. Di sini kami mendaki dalam kondisi tidak anggun karena kami memaksa… memaksa tampil seburuk mungkin dalam gerakan kami, karena konon orang yang bersedia merasakan pedihnya asam urat meracuni otot… keletihan yang amat sangat… itu yang akan sampai tempat tujuan.  Itulah alasan yang membuat kami bertahan in the last miles untuk merasakan terbitnya fajar, dunia impian yang penuh keajaiban dan kesempatan untuk menikmati anugerah mutlak dari Tuhan.

Saat kami sampai di spot sunrisenya kami merasakan sensasi yang luar biasa, seperti gravitasi terbaik untuk menghadirkan hal-hal tak terduga yang mengitarimu dengan sangat bijaksana. Mata dipuaskan oleh panorama, telinga dibelai oleh deru damai semesta, hidung mu disentuh oleh segarnya O2, tubuh dimanja oleh warna-warni semesta. Begitu indahnya, begitu damainya apalagi ditambah tawa riang di setiap wilayah (dikutip dari mas Wira). Teh manis hangat dan gorengan adalah makanan paling sempurna, sebuah penutup trekking paling paripurna.

Apakah setelah trekking di bukit Pronojiwo ini mengobati patah hatiku? Jawabnya tidak, karena dengan naik gunung patah hati belum tentu sembuh karena kesembuhan sendiri itu berasal dari daya pikir dan batin untuk lebih ikhlas.

Komentar