CHAPTER 15 : KOROSI - REMUKNYA SEBUAH JIWA
Jatuh
cintaku kali ini tidak melanjutkan dengan cinta pertamaku kala itu. Dengan
mempertimbangkan banyaknya kendala yang tersebar di kepala dan dengan keikhlasan
hati maka kuputuskan Cinta pertamaku itu akan kusimpan sebaik-baiknya dalam hati
saja. Lalu cinta dalam diriku terus kupaksa bergerak maju, untuk memulai segala
sesuatu yang baru.
Cinta
keduaku tertambat pada seorang gadis yang dikenalkan lewat chat whatsapp oleh
saudaraku. Sebut saja Lita namanya, umur terpaut 2 tahun lebih muda dari saya,
bekerja di retail furniture di Jakarta.
Foto
profile seseorang kadang dapat membuatmu bergetar serta membuatmu tak sadar dan
parahnya diriku dibuat kasmaran sebelum berkenalan. Lalu kumulai dengan chat
ala kadarnya dan hingga akhirnya ku beranikan diri untuk ketemuan. Setelah
pertemuan pertama itu akhirnya muncul pertemuan-pertemuan berikutnya.
Hingga
akhirnya saat pertemuan ke tiga, pukul lima sore setelah selesai acara
pelampiasan adrenalin tingkat tinggi kita di ice skating, di tempat makan Fish
and Co Mall Taman Anggrek, kuberanikan menyatakan perasaan, ada perasan kaget
dan sedikit menendang berlebihan, dia tersenyum sembari berkata : "aku
belum siap".
Jawaban
macam apa itu? Sebagai pria biasa yang saya pahami tujuan menyatakan perasaan
adalah penerimaan atau penolakan, dan kalimat tersebut sangat mengecewakan
bagiku.
Bagaimana
dia bisa setenang itu menanggapi asmara yang bisa membahayakan nyawa, karena
penolakan bisa menyebabkan serangan jantung, sedikit gendeng dan bisa
menyebabkan ling-lung.
Beberapa
minggu setelah penolakan itu (2015) saya dipindah tugaskan oleh kantor pusat
(HO) ke kantor cabang tempat kelahiran saya di NY atau lebih dikenal sebagai
NewYokarto (Yogyakarta). Karena belum bisa move on dari si dia, saya putuskan
untuk tetap menjalin hubungan dengannya untuk beberapa bulan kemudian.
Tahun 2015
berlalu, kami pun bertemu kembali di Jakarta (2016) setelah saya selesai
meeting UMM (Unit Managerial Meeting) yaitu di hari minggunya. Déjà vu terulang
kembali, di jam yang sama, hanya beda tempat, rumah makan Koenstring yang jadi
saksinya. Karena sudah tidak tahan, hatiku akhirnya meronta meminta kepastian
serta menyalak di setiap waktu untuk meminta perhatiannya. Hingga aku
terkedjoet oleh jawabannya : "Maaf, aku tidak bisa menerima cintamu.."
Wajahku
merah padam..
Hatiku
remuk redam...
Jiwaku
hancur berserakan...
Lalu
kenyataan menyapaku pelan-pelan...
Usahaku
gagal bekerja di hati terdalamnya. Perasaanya melesat menjauhiku, menjungkir
balikkan dan meninggalkanku dalam kelam. Segala upaya yang kukira dapat
membuatnya balas mencintaku hanya membuat hatiku semakin sendu dan pilu. Itulah
penjelasan tentang besarnya cintaku yang ditanggapi dengan dahsyatnya penolakan
darinya.
Diriku
berpikir kenapa dari awal tidak langsung ditolak saja, kenapa dia mau ketika
kuajak bertemu berulang kali? Bahkan jika hubungan kita dianalisa dari hukum
fisika pun kita sudah menemukan aksi - reaksi dan apakah ini yang dinamakan
harapan ketika kamu diberikan sayap lalu kemudian sayapmu dipatahkan ?!
Setelah
penolakan itu, akhirnya diriku kubuat sibuk sesibuk-sibuknya dan gila
segila-gilanya dalam bekerja hanya untuk melupakan kenangan akan dia yang
selalu menari-nari di kepala.
Dua tahun
cukup untuk mengendapkan kesedihan dikepalaku, sudah saatnya mengganti ingatan
lama dengan yang baru, sudah saatnya keluar untuk menghirup udara baru, bertemu
dengan teman-teman baru, dan harapku mungkin bisa membawa ke hati yang baru.
Cara
pandangku tentang cinta kemudian berubah karena cepat atau lambat, entah maut
atau orang lain yang menyebabkan, hubungan selanggeng apa pun akan dipisahkan,
maka yang terbaik adalah mencintai dalam keikhlasan (dikutip dari buku distilasi
alkena).
Lalu,
kepadamu yang pernah mengisi hati ini kemudian pergi dan tak pernah kembali,
kuucapkan terima kasih. Jika bukan karena rasa sakit yang pernah kau beri,
diriku tidak akan pernah bisa menulis cerita se-epic ini.
Terima
kasih untuk Mas Wira Nagara sudah mau menjadi guruku dimana buku-bukunya telah
menemani hari-hari perenunganku tentang patah hati serta menjadkanku pribadi
sebaik-baiknya diriku.
Kisah
cintaku akan terus berlanjut... namun tolong jangan berharap berlebihan, karena
bahan cerita tak kunjung didapatkan...
Komentar
Posting Komentar