CHAPTER 14 : RETURN OF THE JEDI
Merupakan
akhir dari sebuah trilogy tentang pergumulan hidup saya sehari-hari saat memegang
jabatan sebagai BFM.
Bekerja
dengan baik itu sangat melelahkan, sudah bekerja optimal pun kita masih
seringkali disalahkan, dicela dan di caci-maki dan menurut saya hal tersebut
sudah lumrah terjadi karenanya disebut office politics.
Menghadapi
yang namanya office politics itu hanya ada satu senjata yaitu integritas.
Saat
perusahaan kekurangan dana karena HO belum mengucurkan dana saya sendiri saat
itu harus mencari hutangan supaya perusaan dapat beroperasi.
Saat divisi
kita dikecam oleh divisi operasional karena order tidak sesuai dengan
permintaan mereka saya harus bekerja keras untuk mencari solusi dengan menambah
atau menyiasati shift supaya target produksi tercapai.
Saat produk
kita di complain customer karena kualitas saya harus meninjau ulang kembali SOP
internal saya saat produksi rotinya.
Saat team
yang lain tertidur di malam-malam syahdu kadang muncul masalah tak terduga seperti
mati lampu saat shift 3, generator cadangan tidak berfungsi atau mobil kiriman
ada kecelakaan dan saya harus menyelesaikannya saat itu juga.
Atau saat
terjadinya sabotase di pabrik dimana dalam kemasan roti ditemukan plat logam
(bentuk lembaran maupun spare part motor). Saat itu saya ambil barang bukti dan
saya buatkan laporan ke kepolisian setempat. Hanya saja atasan saya meminta
saya untuk menghentikan tindakan saya tersebut karena menurut beliau “Hal yang
sia-sia saja”.
Semua upaya
yang saya lakukan untuk perusahaan tidak pernah mendaptkan hasil yang baik saat
itu. Di mata atasan, saya dianggap tidak becus memimpin pabrik karena selalu
saja terjadi masalah harian. Sedangkan di mata bawahan, solusi yang saya
tawarkan dianggap tidak bisa direalisasikan sehingga semua kendala yang terjadi
itu disebabkan oleh saya sendiri. Saya sudah pernah meetingkan hal-hal ini ke
team terkait apa saja yang bisa dilakukan dan apa saja yang tidak bisa
dilakukan, mereka selalu menjawab bisa, tetapi saat terjadi masalah dan saya
tanyakan kembali apa yang menjadi kendala mereka memilih diam seribu bahasa.
Pernah
Dirut memanggil saya untuk ditanyai terkait beberapa hal yang tidak saya
lakukan : yaitu 1) dugaan korupsi yang dilaporkan oleh atasan saya di cabang,
2) dituduh sabotase system dari luar perusahaan padahal all akses hanya bisa
dilakukan di dalam perusahaan. Sejak awal berdirinya perusahaan saya sendiri
menolak remote program dari luar perusahaan untuk dikerjakan dari rumah. Dengan
kata lain, jika ada masalah di pabrik, ya karyawan harus masuk ke pabrik.
Apa-apaan
ini? Sebegitu kejamnya kah dunia kerja untuk orang-orang baru seperti saya ini?
Tak ada habisnya saya mengutuki kondisi ini. Ya sudahlah, ambil saja sisi
positifnya, siapakah saya ini? Saya hanyalah serpihan semesta yang kau sebut
senja…. Maaf… Maaf kok malah puisa-puisi lanjut lagi ke cerita…
Jika kamu
mengalami hal seperti ini bukankah artinya kamu hebat?! Tetap chill untuk
segala kondisi. Jika memang kita tidak melakukannya kenapa harus takut, hadapi
saja dengan gagah berani toh selalu ada pertanggung jawabannya kok untuk keluar
masuknya uang di perusahaan. Pada saat
itu Dirut ingin permasalahan diselesaikan secara kekeluargaan saja. Saya sih terima
saja dan saya langsung berikan surat pengunduran diri di tahun 2016 ke Dirut
sebagai ungkapan kekecewaan saya.
You know
what? Saya dinyatakan tidak terbukti melakukan hal-hal yang dituduhkan tersebut
setelah rapat direksi. Kemudian saya dipindahkan kembali ke Merchandising
Pusat. Surat resign saya pun ditolak oleh dirut. Terima kasih buat pak LTW
untuk kebaikan hatinya, serta kesabarannya menghadapi saya seorang troble maker
yang tidak sabaran ini.
Di tahun
yang sama selain patah hati dengan perusahaan saya pun mengalami patah hati
dengan bidadari yang kudamba (saya akan ceritakan detailnya di “korosi-remuknya
sebuah jiwa”). Sudah jatuh tertimpa tangga, hidup merana, dan kondisi tidak
bahagia. Seperti itulah kenyataan ketika menghancurkan semua yang pernah kau
bangun, runtuh, jatuh dan akhirnya tersungkur dalam ikatan lara yang tak
berkesudahan.
Dan ketika
nasi sudah menjadi bubur, ketika semua mimpi semuanya hancur satu-satunya cara
adalah menikmatinya...
Selanjutnya
Chapter 15 : Korosi – Remuknya Sebuah Jiwa.
Komentar
Posting Komentar