CHAPTER 13 : THE EMPIRE STRIKES BACK


Lanjut lagi di episode Branch Factory Manager Episode dua yang rencananya akan saya akhiri di episode tiga. Setelah pabrik berjalan beberapa bulan dengan berbagai masalah yang menderanya, saya kemudian mulai fokuskan kepada internal perusahaan dan focus kepada Sumber Daya Manusianya kenapa demikian? Saya berpikiran bahwa jika saya mempu membentuk SDM yang hebat maka perusahaan akan berjalan dengan sendirinya karena masing-masing orang sudah tahu dengan apa yang akan dikerjakannya sedang saya sendiri bisa fokus kemasalah lainnya (cari masalah baru).
Pekerjaan menurut saya jika kita sudah tahu mekanismenya akan lebih mudah untuk meyelesaikan pekerjaanya. Untuk pekerjaan level teknikal adalah pekerjaan dengan cara kerja yang terus menerus diulang-ulang tiap harinya sehingga orang baru bisa cepat menerimanya.
Berbeda dengan level managerial dimana orang perlu pemahaman lebih karena dalam satu permasalahan itu akan ditemukan banyak solusi dan juga banyak konsekwensinya sehingga diperlukan pengalaman dan jam terbang tinggi untuk pemilihan solusinya.
Kerjaan di pabrik roti sendiri lebih banyak di dominasi untuk kerjaan teknikal. Awalnya saya pikir dengan adanya beberapa expert senior dari team akan mempercepat kinerja pabrik tapi hal tersebut tidak terjadi bahkan permasalahan lebih banyak di sector produksi (proses produksi dan packing). Pernah terjadi dimana kiriman roti ke toko tidak sesuai dengan estimasi sedang di bagian produksi banyak roti menumpuk. Roti hari sebelumnya menumpuk sangat banyak di bagian packing, sehingga seharian hanya digunakan untuk proses packing saja produksi di stop dahulu. Hal ini sangat merugikan karena umur roti untuk kiriman ke toko sudah berkurang banyak jika sedangakan umur roti di toko hanya empat hari.
Kenapa hal tersebut terjadi? Setelah saya amati lebih mendalam melalui data schedule produksi dan pengamatan lapangan ternyata kendala utamanya adalah team expert senior saya tidak mengajarkan ilmu yang dimilikinya. Sehingga SDM di pabrik hanya menunggu perintah saja tanpa tahu apa yang akan dikerjakannya. What the … ??? Masih saja cerita klasik terjadi di zaman now ini….
Langkah yang saya ambil, saya mulai mendiskusikan ke expert senior untuk mulai mengaplikasikan getuk tular dimana anak baru yang sudah bisa kerjaan mereka akan mengajarkan lagi ke anak yang lain. Tenggat waktu satu bulan, jika expert senior tidak mengajarkan atau memonitoring progressnya ke saya maka saya sebagai BFM akan laporan ke kantor pusat sebagai pemberitahuan dan juga teguran tertulis ke expert senior sebagai awalan …. Saya akui memang arogan, junior yang menantang expert senor yang sudah bekerja puluhan ribu jam kerja. Pada akhirnya saya dijuluki “the troublemaker” oleh senor manager saya sendiri…
Mindset kita memang susah menerima perubahan baru. Sama seperti kasus di atas, mindset lama selalu mengatakan bahwa jika ilmu diajarkan ke orang lain maka akan membuat orang lain lebih pintar. Lalu orang lain akan lebih cepat naik jabatan daripada kita sendiri. Apakah memang benar demikian ? Yes, tentu saja benar…. ngawurnya… Menurut saya memang inilah hidup bro, so what? Hal tersebut tidak akan terjadi jika kita terus menerus lapar akan ilmu-ilmu baru, bukankah begitu?
Sekian dan terima kasih.

Komentar