CHAPTER 11 : HILANG NAMUN TAK TERGANTIKAN


Periode 2012 adalah periode terberat dalam aktivitas kerja kami. Team terbaik kami yaitu ibu Vivi dimutasikan ke Cabang pekanbaru. Mutasi dilakukan karena suami ibu Vivi dipindah tugaskan ke cabang menjadi seorang Branch Manager di sana. Dan tugas utama dari Ibu Vivi saat itu dia harus mendampingi suami untuk bertugas di tempat baru.
Saya akhirnya diberikan anggota baru yaitu Bapak Arul untuk diajari di team. Waktu itu tongkat estafet dari Ibu Vivi diserahkan ke Bp. Pandu untuk menghandle aktivitas-aktivitas harian di Bakery juga untuk mengajari anak baru ini. Untung saja team saya yang baru ini mempunyai daya tangkap yang lumayan cepat, tangkas dan selain itu beberapa kerjaan bisa diselesaikan dengan cepat.
Setelah sekitar dua bulan training dengan anak baru, saya akhirnya mengambil keputusan untuk menginformasikan ke senior manager saya bahwa team kami yang baru sudah ready walaupun tentu saja tidak demikian. Sebagai catatan : Senior manager saya waktu itu tidak memberikan batas waktu untuk mempersiapkan team baru saya. Beliau memberikan waktu selama yang saya mau sampai team benar-benar siap.
Waktu itu Ibu Vivi juga tampak tidak siap dengan kondisi ini, dan beliau sempat bertanya : “apakah tidak terlalu cepat pak, waktu kepindahannya ke Pekanbaru?”, dan saya pun menjawab: “Waktu kepindahan sudah diatur oleh senior manager”.
Mohon maaf kepada ibu Vivi saya berbohong waktu itu, juga kepada senior manager saya dan di blog ini saya akan utarakan apa yang melatarbelakangi saya ambil tindakan itu.  Saya berpikiran bahwa suami istri tidak boleh terpisah lama, dan tidak boleh dipisahkan jarak dan waktu karena suami dan istri adalah satu kesatuan tim dalam senang maupun susah sehingga saya dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya berusaha memindahkan ibu Vivi ke kembali bersatu dengan suaminya di Pekanbaru. Semoga suatu hari nati ibu Vivi dapat memaafkan dosa-dosa saya…
Setelah ibu Vivi resmi di pindah tugaskan ke Pekanbaru. Saya lega dengan kondisi terebut karena Ibu Vivi bisa bersatu kembali dengan suaminya tapi di lain sisi saya memiliki kecemasan bagaimana saya dan team baru bisa bertahan hidup tiap harinya. Dan divisi saya mengalami kegoncangan luar biasa selama 3 bulan lamanya. Hingga pada akhirnya kami semua mulai membiasa dengan ritmenya.
Goncangan itu selain disebabkan oleh : 
1) kehilangan orang terkuat saya di team yaitu ibu Vivi. 
2) juga disebabkan karena eksperimen saya untuk mengubah metode kerja di divisi Bakery yang dulunya seorang admin menangani satu supplier saja lalu saya ubah dimana satu admin menangani banyak supplier. Metode lama keuntungannya adalah masing-masing admin sangat fokus di pekerjaanya dan setiap masalah dapat diselesaikan dengan amat cepat karena PIC nya sudah tetap. Dengan menggunakan metode baru saya keuntungannya adalah jika saya kehilangan seorang team karena resign atau mutasi setidaknya proses serah terima akan menjadi cepat, membiasa dan tidak perlu lama-lama karena seseorang di team sudah bisa handle segalanya.
Akhirnya kami pun siap dengan segala hal yang menghadang. Tidak pandang seberapa sulitnya kehidupan, semua hal bisa beres dikerjakan dengan berbekalkan kemantapan.
Menjelang akhir tahun 2014, saya pun juga dimutasi ke cabang Yogyakarta dan saya harus siap berpisah dengan divisi Merchandising yang sangatlah kucinta dan juga beserta kenangan-kenangan yang sudah tercipta di dalamnya...

Komentar