CHAPTER 08 : Enigma Katalis
Pembahasanku tidak selamanya tentang pekerjaan kali ini akan kusisipkan tentang romansa cinta di Jakarta. Dalam suatu kehidupan pasti ada yang namanya pertama kali. Pertama kali berjalan, pertama kali berlari, pertama kali kenalan dengan seseorang, dan pertama yang lainnya hingga pertama kali jatuh cinta walau endingnya lumayan membuat sakit di kepala. Apakah aku pernah merasakan jatuh cinta sebelumnya entah itu di sekolah ataupun saat kuliah? Kalo cuma lirik sana-sini sih iya, tapi untuk serius jawabannya sih tidak. Aku malu karena untuk bayar toilet umum saja masih menggunakan uang ortu saat itu. Beda cerita jika kita sudah berpenghasilan sendiri, bisa sedikit sombong dengan dada membuncah, maka pilihanku adalah merasakan cinta saat sudah berpenghasilan sendiri.
Bermula dari dua teman ibu Vivi bagian finance yang kadang datang untuk makan siang dan ngobrol bareng di meja kerja saat istirahat siang. Dari kedua teman ibu Vivi tadi ada satu orang yang menarik perhatian… Sebut saja The Anker Girl, nama pemberianku untuknya karena dia begitu istimewa.
Wajahnya sangat presisi, selalu cantik dalam segala medan dan kondisi. Rambutnya yang hitam kadang kontras dengan warna senja. Bibirnya adalah keajaiban bertahta semesta dan didekatnya diriku selalu percaya bahwa cinta benar-benar nyata. Matanya adalah bagian yang paling ku suka, ya matanya, matanya adalah purnama tempat gelapku menemui cahaya.
Awal perkenalan, disertai candaan biasa lalu diiringi kagum yang tidak berkesudahan. Dan setelah hari-hari itu diriku memulai pagi dengan mengingatnya. Dia adalah alasanku berangkat kerja setiap hari dengan hati berdebar-debar entah di hari cerah, maupun mendung. Sungguh di dekatnya aku selalu saja ingin berlama-lama. Dia ada disekitarku setiap hari, dengan jarak yang begitu dekat, namun hati tidak terikat. Menimbulkan harapan tentang sesuatu yang tidak pasti yang nantinya menjadi mungkin saja.
Pernah ada niatan untuk mendekatinya tapi tinggal wacana saja karena ada hal-hal yang menjadi pertimbangan di kepala. Lalu saat Ibu Vivi dimutasi ke Pekanbaru kondisi mulai berubah, diriku menjadi gelisah menerka-nerka dalam runtuhnya logika bahwa mungkinkah ada hari lain setelah hari itu atau dia hanya akan menjadi sekejap yang membekas di dada. Akhirnya, kuputuskan untuk mencintainya dalam keikhlasan, merelakan sosoknya lewat tulisan-tulisan serta mengubah kenangan menjadi doa-doa kerinduan.
Semoga di lain lini masa, kita ... eh maksudnya diriku masih bisa bertemu dengannya untuk bercerita walau diantara kita hanya diriku yang jatuh cinta. Buat kamu, The Anker Girl gadis impian yang kutulis di blog ini, berbahagialah selalu, jangan pernah hilang senyummu.
Judul ini kugunakan untuk mengenkripsikan dan mendeskripsikan perasaan-perasaan ku (Enigma) dan semoga saja di suatu masa nanti cinta dapat membentuk (Katalis) diriku hari demi harinya menjadi pribadi yang penuh kebaikan dan kehangatan.
Terima kasih buat Mas Wira untuk inspirasinya. Kisah kali ini saya cukupkan sekian saja…. dan sampai jumpa lagi di kisah cinta absurd berikutnya yaitu "Korosi-Remuknya sebuah jiwa". Kisah masih on progress, jadi bersabarlah.
Komentar
Posting Komentar