CHAPTER 06 : TISU
Tisu di sini bukan kertas halus penyekat keringat atau pembersih kotoran di badan. Namun TISU yang saya ceritakan di sini adalah Tim Sukses.
Tidak dapat saya pungkiri, reputasi Divisi Bakery yang dulunya hanya sebagai divisi nomor dua akhirnya mengubah sejarah. Divisi kami ini melaju pelan ke peringkat pertama, hingga saat ini. Bukan hanya menggunakan strategi dan taktik yang mumpuni, tapi menurut saya karena adanya dukungan dari tim sukses dibelakangnya.
Mari saya perkenalkan satu persatu. Pada awal saya menempati divisi Bakery ini tim saya hanya seorang saja dan cewek lagi, Ibu Vivi namanya. Beliau selalu marah jika saya panggil dengan sebutan ibu Vivi, bodo amat lha wong beliau senior saya. Walaupun umurnya terbilang masih unyu-unyu, kemampuannya tidak bisa dipandang sebelah mata, karena kerjaan saya dapat dihandelnya seorang diri saja, catet : seorang diri. Tapi seiring berjalannya waktu saya pun harus belajar juga, jadi akhirnya kerjaan kami handle bersama-sama. Hal yang saya sukai dari ibu Vivi ini adalah beliau super galak, tegas, kereen apalagi berani marah-marah dengan atasannya (kasihan pak DCS kala itu). Sosok yang luar biasa dan akan selalu menginspirasi saya.
Anggota ke dua adalah saya sendiri, saya ini adalah seorang underdog, trouble maker sejati, juga seniman kapiran, leader yang sok tau arah dan sosok yang siap membuat tiap orang muntah darah. Saya yakin Ibu Vivi kena stress internal saat ditempatkan satu team dengan saya kala itu…..
Bulan demi bulan berlalu, budget demi budget dapat kami lalui dengan berteriak oh indahnya hari ini, kawan namun kadang detik lainnya berakhir menjadi derita, dimana ketegangan demi ketegangan menyerang dengan luar biasa dan waktu itu saya putuskan untuk menambah seorang anggota baru. Saya minta langsung ke senior manager waktu itu dan beberapa bulan kemudian anggota tim ketiga kami adalah Bp. Pandu langsung beraksi dari sudut-sudut tak terduga.
Bp. Pandu ini umurnya juga masih unyu-unyu, orangnya cool, keras tapi baik hati. Hasil training yang luar biasa berat oleh Ibu Vivi menjadikan Bp. Pandu manusia yang luar biasa dan sempat membuat keributan dengan tim DC di awal debutnya. Dan pada akhirnya dialah yang menjadi penganti ibu Vivi dan saya untuk memandu MT-MT baru semuanya, seorang Pathfinder yang sama dengan hobinya. Sebuah penutup yang paripurna.
Dengan sifat-sifat personal tadi bisa dibayangkan seperti apa kondisi tim Bakery saat itu. Hanya dua kata yang bisa saya jelaskan : Ceria dan Penuh Warna…. Yang jelas kita have fun setiap hari…. Ketawa ketiwi di sana-sini… Dan saya sering kali mendapat teguran dari manager divisi lain terkait dengan kelakuan haha-hihi kami. Tapi apalah daya... Kegilaan tim terus berlanjut hingga di suatu titik tertentu, teguran demi teguran berubah drastis menjadi suatu pembiaran…
Itulah cikal bakal Tim Sukses yang menemani perjalanan karier saya saat itu. Semuanya dimulai kegembiraan, ketulusan hati, kerelaan berbagi dan saling percaya akan membuat kamu dan tim mu menjadi luar biasa hebat tak terkira.
Note : Mohon maaf untuk anak-anak muda yang sudah saya panggil Bapak / Ibu / Mas / Mbak bukan maksud saya untuk menghina atau membuatmu merasa tua tetapi panggilan ini adalah suatu bentuk penghormatan dari saya untuk kalian semua.
Sekian dan terima kasih. Dan cerita pun berlanjut ke Chapter "BETE".
Komentar
Posting Komentar