CHAPTER 07 : BETE
Masalah yang menghadang atau mengendap di kepala kadang membuat kita stress dan kondisi ini membuat kita menjadi bete. Bete yang akan kita bicarakan di sini adalah Best Teacher buat kita sebagai pribadi, orang tua, karyawan, manager bahkan seorang pimpinan.
MT biasanya dipersiapkan oleh perusahaan untuk menjadi calon pimpinan di masa depan. Menurut saya kualitas pimpinan itu ditentukan dari dirinya sendiri, lingungan tempat kerja serta siapa yang menjadi gurunya.
Saya tidak pernah sedikitpun membayangkan akan menjadi seorang guru/tentor di tempat kerja untuk MT. Suatu tanggung jawab yang amat sangat berat, lha wong belajar untuk sendiri saja masih susah. Bahkan selama di SD, saya pernah beberapa kali nyaris tinggal kelas (di kelas 4 dan kelas 5) tapi untung saja hal tersebut tidak terjadi. Saya sendiri termasuk orang yang DDR (Daya Dong Rendah) dan perlu ribuan jam untuk memahami segala sesuatunya. Dan dengan bangga saya dapat katakan bahwa saya ini termasuk orang jenius... Jenius dalam hal pantang menyerah.
Selama masa kerja saya di Bakery ada banyak MT yang ditempatkan di divisi saya untuk belajar. Sifat-sifat dan cara kerja dari mereka juga bermacam-macam. MT pertama yang menjadi anak didik saya adalah Bp. Daniel, merupakan cerminan dari saya di masa lalu. Punya sifat yang terlalu baik, terlalu menerima dan sifat terlalu-lalu yang lainnya. Kelemahan Bp. Daniel adalah kesulitan dalam memahami hal-hal baru secara cepat dan sudah kelihatan sejak hari pertama bertemu… Coba dibaca lagi di bagian sebelumnya bahwa saya dan bp. Daniel adalah cerminan yang sama, so bagaimana saya bisa mengajarinya?
Tugas saya saat itu bagaimana membuat Bp. Daniel memahami proses-proses yang ada di divisi itu. Cara yang saya gunakan waktu itu cukup aneh dan sedikit gila…. Saya gunakan proses mencongak... Bayangkan saja proses ini kami lakukan tiap sore menjelang pulang kerja dan jika saya tidak sempat proses ini akan dibantu oleh ibu Vivi atau Bp. Pandu. Proses ini yang akhirnya menghantarkan Bp. Daniel ke depan pintu gerbang Frozen 1 dengan atasannya Ibu Hartini saat itu dan Bp. Daniel menjadi manager terbaik Frozen hingga saat ini.
Selain Bp. Daniel ada Juga Bp. Swastika, sifatnya memang agak aneh-aneh gimana… Sering bertanya tapi sering juga lupa. Metode pengajaran untuk bapak Swastika ini tergolong normal, hanya menggunakan metode tanya jawab saja, dicatat lalu disusul proses lupa… hingga suatu masa Bp. Swastika pernah lupa membuat Trading Term roti di Makassar 1 tahun lamanya yang membuat heboh Bp. BBR dan Bp. DCS dan sempat membuat saya pusing kepala. Kesetiakawanannya menjadi nilai plus buat saya, dan ternyata punya hobby yang sama dengan saya. Saat ini mejadi penguasa cabang dan sangat menikmati aktivitas merakit gundamnya di cabang.
Selain dua MT diatas ada juga Beberapa MT yang sempat hadir menghiasi Tim Bakery seperti Bp. Kevin, Bp. Willy, Ibu Vina dan juga Bp. Gilar yang menjadi murid terakhir dari saya. Dari beberapa MT yang saya sebutkan tadi Bp. Gilar, saya mempunyai kesulitan untuk mengajar bp. Gilar, karena penjelasan verbal cukup sulit untuk membuat dia paham maka akhirnya saya beralih ke penjelasan visual, berupa diagram-diagram beserta looping sistemnya. Dan pada akhirnya menggantikan saya di divisi Bakery cukup lama.
Banyak cara untuk menjadi seorang guru. Paling tidak kita dapat membangkitkan suasana belajar dalam diri kita. Saya sangat yakin bahwa tidak ada orang yang bodoh di dunia ini karena masing-masing dari kita itu pintar dengan caranya sendiri-sendiri.
Sekian dan terima kasih. Lalu untuk menyambut Valentine saya akan tuliskan sebuah legenda tentang cinta dan legenda ini ternyata merupakan cikal bakal untuk legenda-legenda saya berikutnya. Next chapter : Enigma Katalis.
Komentar
Posting Komentar